Sejak kapan aku berada di sini ?
Sejak kapan aku terus termenung begini ?
Sejak kapan aku merasa iri dengan mereka yang lebih imut dari ku ?
Sejak kapan aku merutuki takdirku sendiri ?
Dan sejak kapan aku berpikir sehina ini ?
Aku Tahu. Aku hanyalah sebuah boneka porselen yang tak mempunyai nyawa.
Tak bisa bisa bergerak layaknya manusia.
Tak bisa tertawa layaknya manusia.
Tak bisa menangis layaknya manusia.
Dan tak bisa jatuh cinta layaknya manusia.
Namun kenapa aku ingin merasakan semua itu ?
Ingin merasakan tertawa bahagia bersama keluarga dan teman.
merasakan tangis bersama keluarga dan teman,
merasakan indahnya jatuh cinta,
Dan merasakan kehangatan suatu keluarga.
Namun kapan hal itu akan terjadi ?
Aku tak seperti Pinocchio yang bisa hidup layaknya manusia dan berubah menjadi manusia seutuhnya.
Aku hanyalah sebuah boneka pajangan.
Yang akan di buang jika sang pemilik sudah bosan.
Akankah takdirku berakhir di tempat pembuangan barang bekas ?
Atau dijalanan ?
Lalu kapan kaki-kaki porselenku ini akan menginjakkan kaki di rumput yang hijau ?
Merasakan sejuknya udara pagi.
Menikmati guyuran air hujan Dan sengatan sang mentari ?
Entahlah.
Aku sendiri tak tahu jawabannya.
[FIN}
Note :
This is not a story or poem.
I don't know what is this.
If you think of it as a story, I'm sure.
You won't know how the end.
Don't asking 'why' .
'cause I don't know how the end.
From Snow Bunny Letter,
Frozenoqua


0 komentar:
Posting Komentar